BISNIS DENGAN HATI NURANI, BERANI COBA?
Pengalaman yang cukup menarik. Kita sering mendengar pernyataan bahwa Obat Generik Berlogo (OGB) itu lebih jelek dibanding Obat Bermerek (OB), OGB hanya akal-akalan pemerintah, dengan alasan disubsidi, masyarakat dibohongi. Satu nya Rp 50.000, Generiknya cuma Rp 5.000. Yakin Generik memiliki efek?
Padahal yang pernah ke Pabrik Obat/Industri Farmasi hanyalah Apoteker, bukan orang Medis/Paramedis lain, apalagi orang awam (Kecuali karyawan pabrik, yach). Seakan-akan mereka paham betul apa saja kegiatan di Pabrik Obat. Setiap Produsen OGB harus memiliki Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), yang artinya dari mulai dari Bahan Baku, Proses Produksi, Uji Klinis, Quality Control, dan sebagainya hingga Pengemasan, semuanya sesuai standar yang baik. CPOB pun sebenarnya diadaptasi dari Good Manufacturing Practice (GMP), standar Internasional.
Tapi mungkin saja mereka berbohong? Memiliki Sertifikat tetapi tetap asal-asalan dalam produksi? Tidak semudah itu. Percayalah, di Apotek jika kita salah mengurangi stok saja, sudah kena Surat Peringatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Guard yang paling galak se-Indonesia, seperti KPK nya dunia Farmasi. Setiap pelanggaran yang dibuat, semakin mendekatkan kita kepada malapetaka "Pencabutan Izin". Kalau Apotek tinggal buat baru ganti nama, tapi kalau Pabrik Obat? Butuh miliaran rupiah. Maka dari itu sangat mustahil Pabrik Obat ingin mengambil resiko tersebut.
Sebenarnya siapa yang sedang dibohongi? Coba kita bereksperimen, yang dibutuhkan hanyalah Nyali yang cukup besar dan Minat untuk membuktikan. Artinya anda-anda harus tahu setidaknya 2 (dua) Obat Bermerek yang kandungannya sama. Berikut contoh nya:
Ketika diresepkan ***taren 50 mg sebanyak 10 Tablet, cobalah untuk meminta OGB nya. OGB dari ***taren 50 mg adalah Natrium Diklofenak 50 mg. Selain itu, ada juga merek ***tadex 50 mg, dan beberapa merek lainnya. Sebagai perbandingan harga:
***taren 50 mg : Rp 71.900 /10 Tablet
***tadex 50 mg : Rp 5.000 /10 Tablet
Natrium Diklofenak 50 mg : Rp Rp 3.500 /10 Tablet
Ketika anda meminta OGB Natirum Diklofenak, dan ditolak dengan berbagai macam alasan yang buruk, segeralah minta ***tadex! Kenapa? Karena ***tadex juga Obat Bermerek, secara logika memang ***tadex bukan OGB. Nah, alasan apa lagi yang akan dilontarkan?
Kalau langsung diberikan ***tadex, kita harus mengapresiasi mereka karena sudah konsisten dengan keyakinan mereka dan konsisten dalam membuat pernyataan. Berarti memang keyakinan mereka adalah: OGB buruk, OB baik. Tidak masalah, asal Pasien memiliki hak untuk memilih dan tidak diperdaya dengan harga obat.
Tapi kalau ditolak? Anda sudah harus mencurigai, karena mungkin ada kontrak di dalam pemberian obat itu. Kasi merek A banyak-banyak, nanti bisa lau-lau ke Luar Negeri. Kalau kasi merek B kan tidak bisa lau-lau. Rugi dong.
Atau jika tidak hafal merek obat, coba minta saja: Merek lain ada apa lagi? Kita simpulkan sendiri jawabannya.
Masih belum cukup bukti? Silahkan ke RS Pemerintah, yang pasiennya bisa mencapai 1000 orang per hari. Lihat Obat apa yang mereka gunakan. Lihat di Puskesmas Obat apa yang mereka gunakan. Membohongi satu negara memang mudah, tapi mencelakakan satu negara, siapa yang berani?
Kesimpulannya, OGB tidak lah buruk. Namun, saya juga tidak memaksakan kita semua harus menggunakan OGB. Selagi anda mampu untuk membeli obat mahal, tidak masalah. Karena tulisan ini hanya ditujukan untuk Pasien yang layak mendapatkan pengobatan yang benar dengan harga yang terjangkau.
Terkadang teori memang sudah dilupakan. Saya ingat sekali dulu zaman kuliah Farmasi semester 1 (satu), ada namanya resep P.P. (Pro Paupere), secret code dari Dokter untuk Apoteker, sehingga obat yang diresepkan mohon untuk diberikan dengan bentuk yang ekonomis dan terjangkau, dengan efek dan manfaat yang tetap sama dengan Obat bermerek, alias diganti dengan OGB. Resep P.P. memang sebelumnya bisa dibuatkan atas permintaan Pasien, seiring dengan perkembangan zaman, doktrin OGB buruk dan gengsi mulai mengkikis praktek Hati Nurani tersebut.
Maka dari itu, alangkah baiknya dalam suatu Bisnis, apalagi di ranah Kesehatan, Kepercayaan pasien perlu dibangun demi kemajuan Kesehatan NKRI. Ayo teman-teman sejawat, Rezeki gak kemana-mana, Alangkah baiknya kita berpraktek dengan Hati Nurani. Salam viva la pharmacie !
