APA YANG DILAKUKAN SETELAH PENGAMBILAN SUMPAH APOTEKER?
Setiap mahasiswa program profesi Apoteker yang melaksanakan pengambilan Sumpah Apoteker selalu dihadapkan dengan pertanyaan; Setelah ini bagaimana? Begitulah kira-kira yang diucapkan seluruh teman sejawat saya. Pada dasarnya, semua lulusan Apoteker ingin langsung bekerja, apalagi setelah 5 tahun down karena kita tidak memiliki penghasilan. Kita tidak seperti mahasiswa jurusan lain yang memiliki waktu untuk kerja sambilan. Namun jangan terburu-buru, ada beberapa tips yang dapat dilakukan sebelum "terlanjut basah" seperti yang dialami oleh mayoritas lulusan Apoteker Baru. Hampir seluruh Apoteker Baru mengaku "menyesal" dengan pilihan pekerjaannya. Dalam grup sosial-media Whatsapp angkatan kami yang berjumlah 80+ orang, mayoritas mengaku menyesal. Kok bisa? Mari kita cermati.
MENENTUKAN MINAT
Pada umumnya minat terhadap jenis pekerjaan mulai tumbuh sejak kita masih duduk di bangku kuliah Sarjana, namun ada beberapa individu yang tidak dapat memutuskan hingga Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) selesai. Ada beberapa keuntungan yang didapatkan apabila kita menentukan minat diakhir perjuangan. Pada saat selesai PKPA, pengalaman yang kita dapatkan pada saat PKPA memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menentukan jenis pekerjaan yang kita inginkan. Meskipun pada akhirnya sebagian besar apoteker akan merubah haluan, persiapan dini dalam menentukan jenis pekerjaan sangat membantu, setidaknya anda dapat mengeliminasi beberapa jenis pekerjaan yang dianggap sangat tidak cocok dengan karakter anda.
Jenis pekerjaan yang menjanjikan, berikut plus-minus nya antara lain:
1) Rumah Sakit
Rumah sakit adalah pilihan utama saya setelah lulus dari profesi Apoteker. Hal yang perlu diketahui dalam bekerja di RS adalah; tanggung jawab nya besar! Bekerja di RS cocok bagi apoteker yang ingin terus belajar dan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Tugas yang dilakukan sesuai dengan Pekerjaan Kefarmasian di Rumah Sakit, namun tergantung lagi dengan RS mana anda menitih karir. Pengalaman saya, saya ditempatkan pada Farmasi Rawat Inap, melayani resep pasien rawat inap, sehingga obat nya banyak berbentuk injeksi. Saya juga pernah dikenalkan dengan Rekonstitusi Sitotoksik, di ruangan kedap dengan tekonologi Biological Safety Cabinet (BSC) dan pakaian seperti Astronaut. Sangat menarik!
Kelebihan:
Selalu belajar hal baru, lumayan sibuk sehingga waktu cepat berlalu, jam kerja menggunakan sistem shift, pada umumnya 7-8 jam, bisa shift pagi atau siang, bahkan beberapa RS ada yang menerapkan shift malam. Bertemu dengan tenaga medis dan paramedis yang lain dan belajar kooperatif.
Kekurangan:
Gaji yang tidak layak, bahkan tidak sesuai dengan perjuangan yang dialami pada saat kuliah. FreshGrad kisaran Rp 3-5 juta di Jabodetabek. Kita tidak perlu munafik soal gaji, semua orang ingin memiliki penghasilan yang layak dan kehidupan yang sejahtera. Sampai detik ini saya masih tidak mengerti mengapa bisa sangat minim seperti itu, namun saran saya jika ekonomi menjadi salah satu pertimbangan, ada beberapa RS Negeri di DKI Jakarta yang memiliki gaji spektakuler (berdasarkan informasi yang berbedar di grup sosial-media angkatan). Selalu berkomunikasi dengan baik di grup angkatan, terkadang teman sejawat kita memiliki informasi yang tidak terduga (pernah ada yang menawarkan Rp 11 juta/bulan). Kekurangan kedua, ada beberapa RS hari sabtu kerja, Boss.
2) Industri Farmasi
Kesan teman sejawat saya yang berada di Industri Farmasi; capek man! Sangat lelah, itu yang tergambar dari wajah mereka. Kami sesekali bertemu dan berdiskusi, pada saat weekend di tempat nongkrong, untuk membahas nasib di tempat kerja masing-masing. Intinya, jika ingin di Industri Farmasi, maka siap untuk menjilat atasan, siap menjadi kutu loncat demi karir. Demi keberlangsungan karir, pada saat jam pulang pun kita harus terlihat masih sibuk dan mengerjakan sesuatu hingga pekerjaan nya benar-benar ditambah. Pernah ada teman saya yang ingin melawan budaya menjilat tersebut, hasilnya sentimen terhadap dirinya. Sad. Berikut yang saya dapatkan dari mereka:
Kelebihan:
Gaji yang spektakuler, FreshGrad bisa mencapai Rp 5 juta hingga lebih, sebagian besar hari sabtu libur, sesuai dengan waktu kerja kantoran. Belajar ilmu bisnis dan komunikasi (untuk beberapa divisi seperti marketing).
Kekurangan:
Mimpi buruk semua Apoteker Industri Farmasi. Lembur! ada cerita dari teman saya, dia sejak subuh sudah bangun, untuk mendapatkan layanan antar-jemput gratis dari perusahaan, jam 5 pagi. Kemudian, jam kerja normal sampai sore, namun kenyataannya hampir setiap hari sampai jam 11 malam! Begitu rutinitas setiap hari. Namun sebenarnya jumlahnya pekerjaan disesuaikan lagi dengan divisi masing-masing, entah itu QC, QA, produksi dsb. Tapi tetap aja, semuanya bikin capek, Boss.
3) Apotek
Apotek merupakan pilihan bagi para apoteker baru yang tidak ingin ribet, artinya cukup menjadi Apoteker sebagaimana mestinya (Apoteker, Apotek-er). Sebelumnya memang Apoteker dikenal oleh masyarakat sebagai profesi yang melaksanakan praktik kefarmasian di Apotek. Memilih Apotek berarti siap belajar ilmu manajemen, porsinya sekitar 80% dibandingkan dengan praktik farmasi klinis. Tanpa manajemen yang baik, Apotek dipastikan tidak dapat bertahan. Tentunya Apotek menjadi pilihan yang sangat tepat bagi Apoteker yang memiliki otak bisnis.
Kelebihan:
Pekerjaan yang tidak begitu berat, menjadi tantangan yang menarik bagi pengelola milik sendiri, keuntungan finansial berbanding lurus dengan usaha keras kita. Pernah ada bocoran di salah satu apotek di Yogyakarta, dimana omzet per hari bisa mencapai Rp 10 juta. Andaikan margin rata-rata 20%, kita sudah mengantongi Rp 2 juta per hari. Setelah biaya sewa dan BOP, kira-kira sebesar Rp 1,5 juta per hari, kita masih termasuk didalam kategori sejahtera.
Kekurangan:
Bagi Apoteker yang dipekerjakan oleh Pemilik Sarana Apotek (PSA), terkadang tanggung jawab yang diterima sangat besar. Semua pekerjaan dilimpahkan kepada Apoteker, PSA hanya terima bersih, dan terkadang hubungan bukan kerjasama sepadan, tetapi hubungan atasan-bawahan, dengan bayaran yang sangat tidak layak. FreshGrad berkisar antara Rp 2-3 juta untuk ibukota provinsi. Sangat prihatin bukan? Saran saya, jika ada modal, berani lah untuk memulai apotek sendiri. Jika belum ada, segera kumpulkan.
4) Distributor/Pedagang Besar Farmasi (PBF)
Tidak begitu banyak cerita pekerajaan kefarmasian di Distributor. Teman sejawat pun hanya sebagian kecil yang berkarir di jalan ini. Namun, dari berdasarkan pengalaman PKPA dan diskusi dengan teman sejawat, terdapat beberapa hal yang mungkin perlu diketahui (jika tidak didapatkan/diceritakan pas PKPA):
Kelebihan:
Mempelajari ilmu berdagang yang baik, ilmu dapat diterapkan untuk usaha distribusi komoditi lain, dengan kata lain, batu pijakan untuk menjadi pengusaha. Saya mempunyai senior yang sudah lama bekerja di PBF, pada akhirnya dia membuka PBF milik dia sendiri. Hal yang sulit dilakukan oleh pekerja Industri Farmasi (coba saja buka Industri, kalau bukan Industri obat tradisional/herbal yang skala UKM, sulit sekali, teradang butuh investor). Hasilnya, sejahtera. Pekerjaan kefarmasian di Distributor pada dasarnya hampir seperti Industri Farmasi, dengan prinsip bisnis. Namun menurut pengakuan teman sejawat, tidak ada kata capek di jenis pekerjaan ini.
Kekurangan:
Ada suatu cerita yang menarik, beberapa Distributor membuka lowongan kerja Apoteker setiap kelipatan 3 bulan. Sungguh aneh bukan? Ternyata setiap rekruitmen, tenaga kerja dalam masa percobaan selama 3 bulan, sebagian besar tidak ingin melanjutkan kontrak sebagai karyawan tetap. Pekerjaan distributor memang cukup menjanjikan, namun secara jenjang karir tidak memihak pada Apoteker. Pernah ada Distributor di salah satu ibukota provinsi yang melarang Apoteker untuk berhubungan dengan sistem keuangannya. Penanggung jawab masa wewenang dibatasi?
5) Pemerintahan
Apoteker di pemerintahan jumlahnya sangat kecil, jika ada, pada umumnya posisi tersebut diisi oleh senior kita yang sudah terkenal di dunia farmasi daerah setempat. Para pegawai di Dinas Kesehatan Provinisi maupun Kota/Kabupaten, yang berkompetensi di bidang Farmasi (Yankes), hampir seluruhnya anggota IAI senior. Pekerjaan yang menjanjikan bila dilihat dari sudut pandang power, bukan finance. Saran saya, jika tidak bisa/ingin menjadi bagian dari pemerintahan, minimal harus memiliki relasi dengan teman sejawat disana, karena berbagai izin direkomendasikan dan dikeluarkan oleh Dinkes melalui mereka. Belum ada informasi dan pengalaman bekerja di BPOM yang dapat saya sampaikan.
Kelebihan:
Jam kerja pemerintahan, seperti PNS yang memiliki jam pelayanan yang terbilang cukup pendek. Pekerjaan seputar sistem dan peraturan, memiliki power di daerah setempat. Dapat berkontribusi dalam menetepkan kebijakan Yankes di daerah setempat.
Kekurangan:
Tidak semua orang ingin terlibat dengan pekerjaan pemerintahan. Terlibat dalam pemerintahan, artinya siap menjadi transparan dan bebas dari segala hasutan KKN. Kehidupan dengan privasi keuangan tidak dapat dipertahankan. Terkadang, meskipun kita menerapkan kejujuran tetap saja dapat dimanipulasi dan dijatuhkan oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab.
6) Peneliti
Menjadi peneliti memang terkadang sangat menarik, namun jika kita memperhitungkan kehidupan jangka panjang, perlu dipertimbangkan lagi terkait besarnya penghasilan dan waktu luang. Pada umumnya para peneliti adalah orang yang lebih mengutamakan kemajuan ilmu pengetahuan, menemukan hal baru yang bermanfaat. Searah dengan yang diserukan oleh kebanyakan orang, jika ingin menjadi peneliti memang seharusnya tidak perlu mengambil program profesi, karena sangat mubazir dan tidak ada keterkaitan antara ilmu eksak Farmasi dengan tenaga kerja Profesi Apoteker.
Kelebihan:
Memenuhi hasrat sebagai peneliti, terkadang mendapatan proyek penelitian ke luar negeri. Saya punya teman sejawat seperjuangan, yang setelah lulus Apoteker malah menjadi peneliti di negeri Sakura. Hasil yang kita kerjakan juga berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, menjadi kebahagiaan bagi beberapa orang.
Kekurangan:
Pekerjaan yang tidak dapat ditunda, terlebih jika kita meneliti dalam rangka melanjutkan studi. Studi PhD mantan dosen saya di Prancis sudah memakan waktu lebih dari 3 tahun dan masih terus berlangsung. Peneliti pada umum nya sepaket dengan akademisi, menyebarkan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Waktu yang bisa dibilang tidak fleksibel dibanding tenaga kerja Apoteker lainnya.
PENGALAMAN
Saat saya masih kuliah Sarjana, saya sudah mengeliminasi jenis pekerjaan yang berkaitan dengan Industri Farmasi. Hal ini sangat membantu, dimana saat kita menempuh pendidikan profesi, kita sudah bisa fokus untuk belajar secara intens ke arah yang kita inginkan. Pelajaran Industri Farmasi Hanya dianggap pelajaran yang cukup tahu saja, lewat di dalam proses pembelajaran kita, namun perlu diingatkan bukan berarti kita harus mengabaikan, namun minimal kita mengerti konten pelajaran yang disampaikan karena di dunia kerja secara tidak langsung semuanya akan berkaitan.
Pada saat menempuh Sarjana, saya ingin menjadi seorang researcher. Setelah saya melaksanakan tugas akhir, saya baru merasa bahwa penelitian itu tidak sesuai dengan karakter saya. Maka pada saat kuliah profesi, saya mendalami Farmasi Klinis sebagai persiapan untuk bekerja di Rumah Sakit. Hal itu masih saya pertahankan hingga lulus program profesi dan bekerja di salah satu Rumah Sakit Internasional terbaik di Tangerang. Namun, ibarat orang bekata; tidak apa-apa mencoba, setidaknya ada pengalaman, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan merubah haluan ke ranah Farmasi Komunitas, yaitu Apotek!
Mengapa saya begitu nekat, meninggalkan segala obat injeksi, ampul-ampul yang cantik dan rekonstitusi sitotoksik yang sangat menarik itu? Ternyata, selain menentukan minat, kita juga harus tahu apa tujuan kita memilih suatu jenis pekerjaan Farmasi tersebut. Tujuan saya memang kesejahteraan, dengan minat di dunia bisnis akhirnya saya mengambil jalan sebagai pengusaha meskipun harus dimulai dari nol (pemula).
TUJUAN
Pada akhirnya, tujuan adalah hal utama dalam melakukan pertimbangan. Pada saat saya kuliah, saya selalu memegang teguh prinsip idealis, segala sesuatu harus sesuai dengan literatur. Hal tersebut yang membuat saya memilih pekerjaan di rumah sakit. Namun, setelah melihat dunia yang sebenarnya, saya mengubah haluan menjadi pengusaha kecil di dunia farmasi komunitas, Apotek. Ternyata tujuan saya sebenarnya tidak begitu idealis, tetapi lebih cederung ke realistis. Atas dasar hal itu, saya sekarang ingin membagi rata antara pelayanan kefarmasian yang idealis dengan bisnis yang dapat menghasilkan finansial yang layak untuk kehidupan jangka panjang.
Maka dari itu, jika anda sudah lulus dan bertanya; Setelah ini bagaimana? Maka anda sudah mendapatkan sedikit gambaran. Semoga informasi ini dapat membantu teman-teman sejawat dimanapun anda berada.

realistis..good sharing
BalasHapusPermisi kak, mau tanya. Kalau misalnya kita kan ambil Farmasi Industri, terus kerja di Pabrik. Kemudian suatu saat kita berhenti bekerja di pabrik dan pindah bekerja di Apotek / RS gitu. Apakah bisa?
BalasHapusJelas bisa lah
HapusApakah bisa pnya apotek sendiri dg gajih yg sangat minim??
BalasHapusMbak.. bagaimana bila pada saat kuliah minatnya farmasi industri namun memutuskan untuk kerja di RS?
BalasHapus